Mengapa masih muda kok terkena stroke ? Pemahaman tentang berbagai faktor risiko lain yang spesifik pada usia muda mutlak diperlukan. Telaah pustaka ini akan membahas secara mendalam berbagai faktor risiko stroke pada usia muda dan prognosis stroke pada usia muda.
Pembahasan terutama dilakukan pada berbagai hal‐hal berikut:
- genetik dan stroke,
- migren dan stroke,
- kontrasepsi oral dan stroke,
- malformasi arteriovenosa,
- diskarsia darah dan stroke,
- penyakit jantung kongenital dan stroke,
- alkohol dan penyalahgunaan obat.
Peran faktor genetik pada stroke
Riwayat stroke pada orang tua (baik ayah maupun ibu) akan meningkatkan risiko stroke. Peningkatan risiko stroke ini dapat diperantarai oleh beberapa mekanisme, yaitu:
- penurunan genetis faktor risiko stroke,
- penurunan kepekaan terhadap faktor risiko stroke,
- pengaruh keluarga pada pola hidup dan paparan lingkungan,
- interaksi antara factor genetik dan lingkungan.
Penelitian pada anak kembar memperlihatkan peran faktor genetic pada risiko stroke. Beberapa kelainan genetik yang jarang dihubungkan dengan stroke. Suatu syndrome kelainan genetik yaitu Cerebral Autosomal Dominant Arteriopathy with Subcortical Infarct and Leukoencephalopathy (CADASIL) ditandai oleh infark subkortikal, demensia, dan nyeri kepala migren. Sindroma Marfan, dan neurofibromatosis tipe I dan tipe II juga dihubungkan dengan peningkatan risiko stroke.
Migren dan stroke
Migren merupakan tipe nyeri kepala yang umum pada usia dewasa muda, dengan prevalensi sebesar 4% sebelum masa pubertas, dan sebesar 25% pada wanita di usia 30 tahun. Beberapa penelitian epidemiologi terdahulu menunjukkan peningatan risiko stroke pada penderita migren. Mekanisme yang mendasari kejadian stroke pada penderita migren adalah kondisi hiperkoagubilitas dan pengurangan aliran darah serebral pada saat fase aura. Etminan, dkk (2005) melakukan kajian sistematis dan meta analisis terhadap 14 penelitian (11 penelitian kasus kontrol dan 3 penelitian kohort) terdahulu. Hasil kajian sistematis menunjukkan bahwa risiko stroke meningkat pada penderita migren (RR=2,16,
95% CI 1,89‐2,48). Peningkatan risiko ini secara konsisten teramati pada pasien migren dengan aura (RR=2,27, 95% CI=1,61‐3,19), dan migren tanpa aura (RR=1,83, 95% CI 1,06‐3,05), dan terlebih pada penderita migren dengan konsumsi kontrasepsi oral (RR=8,72, 95% CI=5,05‐15,05).
Kontrasepsi oral dan stroke
Peningkatan risiko stroke akibat penggunaan kontrasepsi oral terutama teramati pada preparat yang mengandung estradiol tinggi (≥ 50 μg). Hasil berbagai penelitian terdahulu tentang hubungan antara pemakaian kontrasepsi oral dan stroke masih sangat kontroversial. Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa peningkatan risiko stroke pada pemakai kontrasepsi oral terutama teramati pada wanita > 35 tahun, perokok sigaret, hipertensi, diabetes, menderita migren, dan wanita dengan riwayat penyakit thromboembolik. Kajian sistematis Schwartz, dkk (1998) pada 2 penelitian kasus kontrol yang mengukur risiko stroke pada wanita muda (18‐44 tahun) yang menggunakan kontrasepsi hormonal. Data diperoleh dari hasil wawancara 177 pasien stroke iskemik, dan 198 pasien stroke hemoragik. Sebagai kontrol dipilih 1191 subyek non stroke. Kajian sistematis tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang kuat bahwa penggunaan kontrasepsi oral hormonal meningkatkan risiko stroke. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan, terutama pengukuran risiko yang lebih spesifik pada kelompok usia tertentu, merokok, obesitas, hipertensi, atau riwayat migren.
Malformasi arteriovenosa
Malformasi arteriovenosa adalah kelainan kongenital, dimana arteri dan vena langsung dihubungkan oleh satu atau lebih fistula. Hubungan langsung ini tanpa perantaraan sistem kapiler. Lapisan arteri tidak memiliki cukup lapisan muskuler. Vena seringkali mengalami dilatasi akibat dari tekanan aliran darah yang tinggi melalui fistula. Malformasi arteriovenosa merupakan sumber stroke perdarahan pada 2% kasus stroke perdarahan, dan pada umumnya pada usia muda (Schumacher, 2006). Kajian sistematis Al Shahi dan Warlow (2001) memperlihatkan bahwa angka insidensi AVM kurang lebih 1 per 100000 per tahun, dengan angka prevalensi sebesar 18 per 100000. Malformasi arteriovenosa bertanggungjawab pada 1%‐2% kasus stroke, 3% stroke pada usia muda, dan 9% kasus perdarahan subarachnoid.
Malformasi arteriovenosa menyebabkan gangguan neurologi dengan 3 mekanisme:
- perdarahan yang dapat masuk ke ruang subarachnoid, ruang intra ventrikuler, dan parenkim otak,
- kejang pada 15%‐40% pasien dengan AVM, dan
- defisit neurologi yang
progresif pada 6‐12% pasien, melalui mekanisme semakin membesarnya ukuran AVM atau
fenomena kekurangan aliran darah akibat aliran darah langsung dari arteri ke vena (stealing phenomenon) (Schumacher, 2006).
Tatalaksana medis untuk malformasi arteriovenosa bersifat individual, tergantung pada demografik, riwayat penyakit, dan hasil angiografi. Terapi invasif untuk malformasi arteriovenosa dapat meliputi embolisasi endovaskuler, reseksi bedah, dan radiasi fokal. Terapi invasif dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi (Schumacher, 2006).
Diskrasia darah dan stroke
Abnormalitas hematologi merupakan salah satu faktor risiko penyakit serebrovaskuler. Gangguan koagulasi merupakan faktor predisposisi terjadi thrombosis. Gangguan hemostatik yang sering dihubungkan dengan stroke adalah gangguan faktor V Leiden, defisiensi protein C dan S dan antithrombin III, anemia sickle cell, hiperhomosisteinemia, dan sindroma antiphospholipid antibodi (Vaishnav, 2006). Diskrasia darah atau hiperkoagulabilitas sebagai penyebab stroke harus dicurigai ada kondisi‐kondisi berikut ini: (1) usia < 50 tahun, tanpa penyebab stroke yang jelas, (2) riwayat stroke berulang yang tidak dapat dijelaskan, (3) riwayat thrombosis vena sebelumnya, (4)
riwayat thrombosis pada keluarga, dan (5) abnormalitas hasil tes koagulasi. Sindroma anti phospholipid harus dicurigai pada pasien dengan riwayat abortus berulang, demensia, neuropati optik dan sindroma lupus (Vaishnav, 2006). Tatalaksana diskrasia darah sebagai penyebab stroke masih kontroversial. Manfaat dan risiko terapi harus dipertimbangkan benar. Anti koagulan merupakan pilihan terapiTindakan profilaksis harus diberikan pada saat‐saat risiko tinggi, misalnya: kehamilan, immobilisasi, atau masa post operasi (Vaishnav, 2006).
Penyakit jantung kongenital dan stroke
Atrial fibrilasi merupakan salah satu faktor risiko stroke kardioembolik yang utama. Berbagai kondisi penyakit jantung lain yang simptomatik maupun asimptomatik dihubungkan pula dengan peningkatan risiko stroke. Kelainan jantung diperkirakan ikut bertanggungjawab pada kurang lebih 40% kasus kriptogenik stroke pada usia muda. Kelainan jantung bawaan yang terkait dengan peningkatan risiko stroke adalah Patent Foramen Ovale, Atrial Septal Defect, dan Atrial Septal Aneurisma).
Penyalahgunaan obat, konsumsi alkohol, dan stroke
Penyalahgunaan obat merupakan masalah kesehatan yang besar di dunia. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penyalahgunaan obat, termasuk kokain, amfetamin, dan heroin berhubungan dengan peningkatan, risiko stroke. Berbagai obat tersebut dapat mengganggu aliran darah, menginduksi vaskulitis menyebabkan embolisasi, endokarditis infektif, mengganggu agregasi platelet, dan meningkatkan viskositas darah (Goldstein, dkk, 2006).
Penelitian epidemiologi terdahulu memperlihatkan hubungan kurva J‐shape untuk konsumsi alkohol dan faktor risiko stroke. Hal ini berarti bahwa konsumsi alkohol ringan sampai sedang memiliki efek protektif, namun konsumsi berlebih meningkatkan risiko stroke. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dalam dosis kecil atau sedang akan meningkatkan kolesterol HDL, mengurangi agregasi platelet, dan menurunkan konsentrasi fibrinogen plasma. Konsumsi alkohol berlebih akan meningkatkan risiko hipertensi, hiperkoagulabilitas, mengurangi aliran darah otak, dan meningkatkan risiko atrial fibrilasi (Goldstein, dkk, 2006). Memahami faktor risiko stroke akan membantu upaya pencegahan yang efektif. Apakah anda sudah pernah mengukur tekanan darah anda ? Pernahkah anda memeriksakan diri ke laboratorium? Bila belum, mungkin sekaranglah saatnya. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Leave a Reply